Kisah Pemuda Garut, 17 Hari Jual Bendera di Ambon

oleh -811 Dilihat

Firman (20) Pmuda Garut yang berjualan Bendera di Ambon (16/8). Dok : Lentera Maluku via kumparan.com

GARUTUPDATE.CO.ID, NASIONAL – Firman, pria 20 tahun asal Garut Jawa Barat, jauh-jauh meninggalkan kampung halamannya datang ke Ambon, untuk mencoba peruntungan dengan berdagang bendera. Meskipun bukan milik sendiri, Firman tetap optimis dan pantang menyerah.

Dari pagi pukul 07.00–21.00 WIT, Firman sudah menjajakan dagangannya di kawasan jalan Jenderal Sudirman, Tantui, Kota Ambon. Bendera-bendera hias yang ditawarkan Firman dibanderol dengan harga dari Rp. 15.000 hingga yang paling mahal Rp.350.000.

Seperti dilansir dari Lentera Maluku via Kumparan.com, Jumat (16/8), Firman mengaku ini untuk kedua kalinya dia datang ke Ambon, hanya untuk berjualan bendera saja. Sebelumnya pada tahun 2018 dia diajak oleh salah satu kerabatnya, namun saat itu lokasi penjualanya berbeda dengan tahun ini.

“Saya kesini untuk jualan bendera hias ini. Kalau sudah selesai, saya pulang ke Garut,”, ucap Firman.

Katanya lagi, selama berada di Ambon, dia tinggal di kost-kostan yang dibayar oleh pemilik modal bendera hias.

“Ini untuk kedua kalinya saya datang ke Ambon, tahun lalu saya datang tapi jualannya di Galala”. Kepada Tim Lentera Maluku, dia melanjutkan ceritanya sambil menunjuk ke arah Galala, yang tidak jauh dari lokasinya saat ini.

Firman yang sehari-harinya adalah pekerja serabutan, mengaku enjoy dengan keadaannya sebagai penjual bendera musiman. Walaupun diakuinya penjualan bendera hias tahun ini menurun dibanding tahun lalu.

Pemuda yang disapa kang Firman ini, mengaku sudah tiba di Ambon sejak tanggal 31 Juli 2019 dan akan kembali ke Garut pada hari Sabtu (17/8).

“Saya sudah ada di Ambon sejak tanggal 31 Juli, dan akan kembali hari Sabtu tepat 17 Agustus”, katanya.

Artinya dia sudah 17 hari berjualan bendera di Ambon. Tidak hanya di Ambon, rupannya Firman juga pernah mencari peruntungan di kota Manado.

“Tahun-tahun sebelumnya saya juga ke Manado untuk menjual bendera”, ungkapnya.

Bendera-bendera yang dijual itu, diakuinya dibawa langsung dari Jawa Barat, bila tidak laku terjual, Firman pun tidak membawa pulang. “ Ya kalau tidak habis, ditaruh saja di sini sampai tahun depan”, pungkasnya.

Seperti inilah momen kemerdekaan di tanah air, bukan hanya untuk upacara bendera atau lomba-lomba khas 17-an, namun juga membawa berkah bagi penjual bendera hias. Disinilah mereka berperan untuk mengais rezki pada musim Agustus.

Sampai pada pukul 18.25 WIT, Tim Lentera Maluku masih terus memantau jualan Firman, sayangnya hari sudah mau malam, hanya dua pembeli saja yang membeli. Kiranya perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tidak terbatas pada euphoria hura-hura semata, namun pemerintah lebih peduli pada masyarakat luas.

Karena tidak dipungkiri bahwa masih banyak rakyat Indonesia, yang hidup dalam keterbatasan sarana dan prasarana umum. Firman yang tetap optimis akan rejekinya lewat jualan bendera hias, walaupun sulit dan penuh tantangan, adalah contoh nyata sebuah refleksi yang bisa kita tiru. Optimis dan kerja keras akan membawa bangsa ini menuju perubahan baik di masa depan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.