Siapa Yang Sering Kesini Buat Ngopi Bareng Temen?

oleh -948 Dilihat

Ngopi di kopi Ipo (foto Merdeka.com)

GARUTUPDATE.CO.ID, GARUT – Sejumlah tempat ngopi saat ini sudah sangat menjamur di salah satu kabupaten penghasil kopi terbaik di Tanah Priangan ini. Tapi di antara tempat ngopi yang memiliki sejarah dan melegenda di sejumlah kalangan, barangkali hanya Ip Coffee morning saja.

Gelak tawa dan canda menghiasi setiap ruangan yang berada di kawasan perkotaan Jalan Ahmad Yani atau Pengkolan, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut saat berada di dalamnya. Jika sebelumnya tidak pernah tahu akan keberadaan tempat itu, semua tidak akan pernah menyangka jika di kawasan Pengkolan terdapat sebuah tempat kopi yang melegenda dan dikelola secara turun temurun dari sang pendirinya, H Ipo.

Untuk bisa datang ke Ipo Coffee Morning kita harus seperti masuk melalui sebuah gang kecil di antara toko buah-buahan dan percetakan foto. Saat masuk akan langsung melihat lima meja, tiga di antaranya berukuran kecil kapasitas empat orang dan sisanya cukup panjang dan besar untuk enam hingga delapan orang.

Seperti dilansir dari laman Merdeka.com, Kopi Ipo sendiri buka mulai pagi sekitar pukul 07.00. Sejak buka tempat tersebut tidak pernah sepi dari pengunjung penikmat kopi yang punya sejarah itu. Jangan aneh juga kalau selama menikmati kopi banyak anak muda hingga orang tua yang bermain gaple sebagai pelepas penat dari keseharian, apalagi kalau menjelang sore.

Bukan hanya orang biasa yang datang ke kopi Ipo. Tidak sedikit juga pejabat pemerintah hingga aparat dari TNI dan Polri yang setiap hari datang hanya untuk ngopi dan bermain gaple. Dalam satu waktu saja, pemain gaple di Ipo bisa mencapai enam grup dan menghabiskan waktu berjam-jam dengan membeli segelas kopi ukuran kecil atau besar.

Sang penjaganya saat ini, Roni menjadi generasi ke empat. Ia menuturkan jika Ipo merupakan nama dari orang tuanya di mana lokasi yang saat ini menjadi tempat ngopi dulunya adalah warung cendol dan sirop, sedangkan kopi hanya menjadi pendamping semata yang disajikan mulai pukul 4.30 pagi sampai 09.00.

“Sesudah itu diteruskan lagi dengan jualan es cendol dan sirop, baru sore menjelang maghrib sampai jam 20.00 kopi mulai disajikan lagi. Tetapi di tahun 1992 bapak saya mulai terserang penyakit dan warung cendol diteruskan kakak saya almarhum Dindin yang nomor dua dan Rudi, kata Roni, Jumat (28/6).

Setelah dikelola oleh anak-anak H Ipo, disebut Roni, satu per satu bahan baku mulai hilang di pasaran dan dari seluruhnya hanya menyisakan cendol dan kopi alpukat. Melihat kondisi tersebut kemudian kakak Roni menghilangkan sirop dan hanya menjual kopi hitam dan kopi susu khas Ipo yang hingga saat ini terus bertahan.

“Alhamdulillah hingga saat ini masih banyak peminatnya, padahal racikan kopi bukan yang nomor satu, melainkan racikan yang nomor dua. Kalau racikan yang dilakukan nomor satu proses pembuatan kopinya membutuhkan waktu yang sangat lama sekali sehingga akhirnya tercipta kopi yang saat ini bisa dinikmati,” katanya.

Diakui Roni para penikmat kopi Ipo mayoritas merupakan aparat dan pensiunan dan juga pengusaha seperti almarhum Aam yang merupakan bapaknya H Ato dodol Picnic. Banyaknya aparat yang datang sendiri dikarenakan H Ipo merupakan veteran, namun di luar itu tidak sedikit juga pelajar hingga pegawai negeri.

“Almarhum kang Aom Kusman dan Hari Mukti juga merupakan bagian dari pelanggan setia kopi Ipo saat itu. Bahkan mantan Bupati Garut pa Memo jadi pelanggan sejak dari zaman sekolah. Dulu pa Kapolres AKBP Umar Surya Fana (sekarang Kombes) pelanggan setia, tahun 80an Wadan Denpom III/2 juga pelanggan setia. Kalau sekarang yang sering ngopi di sini Bupati Garut, Pak Rudy Gunawan,” ungkapnya.

Sementara itu, dalam pandangan penikmat, kopi Ipo bukan hanya sekedar kopi tapi menjadi tempat melupakan kepenatan dari rutinitas kerja yang cukup membuat kepala berat.

“Di sini menjadi tempat nongkrong sederhana namun berjuta makna. Tempat melepaskan penat dari rutinitas harian yang cukup menguras otak dan tenaga. Disini kita bebas membicarakan apapun tanpa batas namun tetap beretika. Bisa juga menjadi tempat sharing dengan para senior Garut karena memang tempat nongkrong mereka, kita banyak mendapat ilmu disini,” ujar Hendra (30) salah seorang penikmat kopi Ipo yang berprofesi sebagai cheff.

Tidak sedikit dari sejumlah penikmat kopi Ipo yang mengaku setelah meminum tidak bisa beralih ke kopi lainnya karena terdapat citarasa yang terlalu berbeda. Ya mungkin wajar saja, karena kopi Ipo memang diolah secara khusus menggunakan alat yang sederhana dengan takaran khusus lalu disimpan didalam botol seperti difermentasi.

“Saya sudah bertahun-tahun ngopi di Ipo dan kalau ditawari kopi sachet atau yang lainnya saya pasti menolak karena tidak cocok di lidah terasa beda saja. Jadi ya kalau mau ngopi saya pasti ke sini, enggak bisa ke tempat lain mau di mana pun tempat itu, karena rasanya pasti beda dan kalau sudah ngopi di Ipo itu pasti seperti memberikan gairah tersendiri,” kata seseorang yang mengaku sebagai Ipo lovers, Sofyan (46).

Dalam pandangan sejumlah kalangan, sejak dulu kopi Ipo menjadi tempat ngopi yang legendaris karena di sana tempat berkumpulnya para aktivis Garut. Tidak jarang tempat tersebut menjadi tempat mewacanakan gerakan meski dalam obrolan ringan namun tetap serius dalam penyikapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.